Pembuatan Pinisi dari Bulukumba, Warisan Budaya yang Diakui UNESCO

Wisata  
Foto: Rep: Abriawan Abhe
Foto: Rep: Abriawan Abhe

Kapal Pinisi merupakan kebanggaan serta bagian dari sejarah dan istiadat masyarakat Sulawesi Selatan. Dikenal tangguh mengarungi samudera, teknologi pembuatan kapal pinisi Bulukumba juga menjadi warisan budaya yang diakui oleh UNESCO.

Bulukumba, Sulawesi Selatan terutama di Kelurahan Tanah Beru menjadi daerah pengerajin perahu pinisi. Proses pembuatan kapal pinisi di Bulukumba terbilang cukup unik yakni memadukan keterampilan teknis serta kekuatan magis.

Keterampilan teknis yang dimiliki oleh masyarakat Bulukumba ini diturunkan secara turun menurun. Pengetahuan tentang teknologi pembuatan perahu dengan rumus dan pola penyusunan lambung sudah dikenal sekitar 1500 tahun.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Setiap tahapan dalam pembuatan kapal pinisi selalu melalui ritual tertentu. Tahap pertama dimulai dengan penentuan hari baik untuk mencari bahan baku pembuat kapal pinisi, yakni kayu. Jenis kayu yang biasa digunakan pun beragam diantaranya, kayu besi, kayu bikti, kayu kandole/punaga, dan kayu jati.

Hari ke-5 dan ke-7 pada bulan yang sedang berjalan menjadi hari yang biasa dipilih oleh masyarakat Bulukumba. Angka lima menyimbolkan naparilimai dalle‘na, yang berarti rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka tujuh menyimbolkan natujuangngi dalle‘na, yang berarti selalu mendapat rezeki.

Setelah pencarian bahan baku, tahap selanjutnya adalah menebang kayu, mengeringkan dan memotong kayu untuk dirakit menjadi sebuah perahu dengan memasang lunas, papan, mendempul dan memasang tiang layar.

Sebelum melakukan penebangan, biasanya akan dilakukan prosesi Annakbang Kalibeseang (ritual penebangan kayu). Ritual ini bertujuan untuk meminta persetujuan kepada pohon yang akan ditebang untuk diambil kayunya sebagai bahan baku pembuatan kapal dengan cara menyembelih ayam sebagai persembahan.

Sebelum tahun 1990an, kayu yang digunakan untuk bahan baku berasal dari sekitar Bontobahari, namun seiring dengan dengan semakin berkurangnya hutan di daerah tersebut, maka kayu sering didatangkan dari luar daerah. Perpindahan pengadaan bahan baku ini, menjadikan eksistensi ritual ini semakin pudar.

Pada tahap pemasangan lunas, terdapat prosesi khusus yang dinamai Annatara (ritual memasang lunas) yang akan dilakukan. Annatara dilakukan sebagai syukuran awal pembuatan kapal. Lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti.

Prosesi Annattara sangat kental dengan makna sebuah keluarga dan kewajiban yang diemban setiap anggota keluarga. Hasil pemotongan lunas bagian depan akan dibuang kelaut dan bagian belakang disimpan dirumah.

Sebelum pinisi yang telah selesai dibuat diluncurkan ke laut, akan dilaksanakan upacara Maccera Lopi (mensucikan perahu). Dalam upacara ini akan ada seekor binatang yang akan disembelih. Jika bobot perahu kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor sapi.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Sing nulis: Mbak Asty Sopian

Berita Terkait

Image

Mengintip Pulau Terpadat di Timur Indonesia

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

RAMENTEN singkatan Rame-rame Nulis Konten. Sing nulis ada Mbak Tania, Mbak Asty, dan Mbak Dian. Selamat menikmati tulisan kami. Monggo di follow yo!

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image