Minimalis Sudah Diajarkan oleh Rasulullah Sejak Dulu

Gaya Hidup  
Foto: freepik.com
Foto: freepik.com

Ramenten, Jakarta -- Menurut sejarahnya, minimalis merupakan gerakan seni yang dimulai pada seni Barat pasca-Perang Dunia II. Dikutip dari breakthetwitch.com, kami mendefinisikan minimalisme sebagai praktik gaya hidup yang berfokus pada meminimalkan gangguan yang membuat Anda tidak melakukan apa yang penting bagi Anda. Kita hanya memiliki sejumlah energi, waktu, dan ruang dalam hidup kita. Untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya, kita harus sadar tentang bagaimana kita hidup setiap hari.

Sepertinya tidak asing ya, konco? Konsep minimalis pada dasarnya adalah bagaimana kita menentukan mana kebutuhan dan keinginan kita. Hal itu sama dengan sikap qana’ah yaitu merasa cukup dengan nikmat yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan. Hadits Riwayat Tirmidzi No.2346, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.

Sikap qana’ah adalah merasa cukup dengan pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat kesenangan orang lain bahkan harta orang lain sehingga kita tidak menghalalkan semua cara untuk mendapatkannya. Sikap tersebut yang melahirkan rasa puas atau kebahagiaan dengan apa yang sekedar kita butuhkan. Setiap manusia pasti memiliki batasan kecukupannya masing-masing, tidak bisa disamaratakan namun terdapat batasan jelas untuk merasakan kecukupan tersebut, yaitu sikap zuhud.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Sebuah tulisan dari ustadz Muhammad Abduh Tuasikal di Rumaysho.com bahwa zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang melalaikan diri dari akhirat, beralih pada meninggalkan kesenangan duniawai dan sibuk pada dunia, lalu semangat menggapai akhirat serta mempersiapkan diri menuju negeri masa depan.

Termasuk dalam zuhud ini adalah meninggalkan yang haram dan makruh, juga meninggalkan hal mubah yang dapat melalaikan dari akhirat dan melalaikan dari melakukan amalan saleh. Zuhud ini bukan berarti kita tidak boleh mengurus dunia yang bisa mengantarkan untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Zuhud bukan berarti kita harus tinggalkan kebiasaan dunia secara umum, seperti meninggalkan jual beli, bertani, dan bekerja. Boleh saja kita mencari dunia asalkan tidak lalai dari persiapan akhirat, hati tetap tidak penuh pada dunia, dan mengharap apa yang ada di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sifat qana’ah dan zuhud ini yang mengantarkan konco untuk dapat selalu bersyukur atas apa yang konco Ramenten miliki. Tidak perlu memaksakan sesuatu hal yang sangat dibutuhkan orang lain namun ternyata tidak kita butuhkan. Seperti konsep minimalis, tidak perlu kita mengisi ruangan hingga penuh dan tidak ada ruang untuk kita sendiri. Cukuplah ruangan itu berisi dengan apa yang kita butuhkan saja.

Sing Nulis: Mbak Tania

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

RAMENTEN singkatan Rame-rame Nulis Konten. Sing nulis ada Mbak Tania, Mbak Asty, dan Mbak Dian. Selamat menikmati tulisan kami. Monggo di follow yo!

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image