Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agus Budiana

Kritikan Media Massa

Kolom | 2025-03-09 15:54:15
Ilustrasi : Sumber berita yang menolak diwawancarai oleh media massa (Sumber : Freepik)

Apabila kita berbicara tentang media massa, tentunya bayangan yang ada dibenak kita adalah wartawan dengan pertanyaan-pertanyaannya, kartu pers nya, nama medianya. Bagi orang yang terbiasa dengan kehadiran wartawan adalah suatu hal yang menyenangkan sekaligus membanggakan, karena kita dianggap sebagai sumber informasi penting yang akan diminta tentang berbagai hal keterangan yang terkait dengan suatu peristiwa yang akan dijadikan berita. Selain itu kita dekat dengan media massa, apapun aktifitas kita pasti akan berkelindan dengan media massa.

Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak biasa bertemu dengan wartawan, sosok wartawan adalah sosok yang harus dihindari, karena akan berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan belum tentu bisa dijawab. Terutama pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan suatu kegiatan ataupun persoalan-persoalan yang terkait dengan seseorang atau lembaga dimana seseorang bekerja.

Merupakan suatu konsekuensi logis kita hidup di negara Indonesia yang kita cintai, dimana hak untuk berbicara, mengeluarkan pendapat dan mendapatkan informasi semuanya diatur oleh Undang-undang. Inilah realitas kehidupan dalam negara yang menganut sistem demokrasi yang harus kita hadapi, Jalani dan merupakan bagian dari kehidupan semua warga negara termasuk para pimpinan lembaga, daerah yang tidak terpisahkan.

Begitu pula bagi seorang pejabat, idealnya hubungan yang dibangun dengan media massa sifatnya sinergisitas, artinya ada hubungan yang saling menguatkan, saling mencerahkan dan tentunya memberikan manfaat buat masyarakat. Karena nantinya banyak hal-hal yang harus diketahui oleh publik, terkait dengan seluruh kiprah kegiatan pemerintahan. Termasuk kebijakan-kebijakan peraturan yang dibuat.

Dalam konteks media massa kritikan yang disampaikan adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kegiatan pemerintahan, karena dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan tentunya kita membutuhkan masukan dari media massa sebagai bahan telahaan dan perbaikan ke depan. Hal ini selaras dengan pendapat Kansong (2022) pentingnya hubungan mutualisme antara pemerintah dan media. Apalagi, di era teknologi informasi yang sedang berkembang pesat saat ini, media memiliki peran penting untuk mewujudkan negara demokratis atau menjadi salah satu instrumen demokrasi serta memberikan informasi kepada masyarakat.

Hal-hal yang dapat memunculkan kritikan dari media massa, bisa jadi berasal dari hal-hal yang sederhana, misal para pejabat menolak kehadiran wartawan untuk meliput suatu kegiatan lembaganya, untuk alasan-alasan tertentu. Tentunya hal-hal seperti ini apabila terjadi, tidak cepat diklarifikasi dapat berakibat renggangnya hubungan kemitraan antara lembaga pemerintah dengan media massa, selanjutnya akan memunculkan kritikan dari media massa.

Fakta dilapangan, masih banyak pejabat-pejabat didaerah terkadang menolak kehadiran wartawan untuk bertemu. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan bagi seorang pejabat menolak bertemu dengan wartawan, berkaitan dengan hak-hak pribadi yang merupakan hal yang sangat dijaga, masalah yang terkait dengan hal-hal yang substantif kegiatan. Beberapa kasus penolakan kehadiran wartawan untuk mengakses informasi : pelantikan 35 anggota DPRD kabupaten Banggai oleh Pamdal setempat (kabarLuwuk, 24/8/2024 diakses 9/3/2025), ORI Kalbar mengusir wartawan yang meliput ( RRI.co.id 22/7/2024 diakses 9/3/2025).

Makna kritikan media massa yang harus dipahami

Kritikan yang dilakukan oleh media massa secara peran yang dilakukan adalah, dalam rangka menjalankan fungsi-fungsi media massa yang seharusnya. Dari beberapa fungsi yang ada, dalam konteks kritik media massa sedang menjalankan fungsi pengawasan. Dalam fungsi ini bagaimana sebuah media massa memantau kegiatan-kegiatan pemerintah dan melaporkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun lembaga. Dalam hal ini media massa berfungsi untuk mengungkap penyimpangan, ketidak adilan atau pelanggaran etika yang mungkin terjadi.

Hal lain adalah, media massa menyediakan platform bagi berbagai opini dan pandangan untuk diungkapkan. Kritik media massa menumbuhkan diskusi publik tentang isu-isu penting, mendorong masyarakat untuk berpikir kritis. Selanjutnya kritik media massa adalah sebagai mekanisme koreksi, memberikan umpan balik kepada individu atau lembaga untuk memperbaiki suatu kesalahan atau meningkatkan kinerja.

Hal lain yang lebih utama dalam kritikan media massa adalah, sebagai salah satu wujud kebebasan pers, hak untuk menyampaikan informasi dan opini tanpa intervensi sensor dan represi.

Penting bagi suatu media massa untuk menyampaikan kritik dengan bertanggung jawab, berimbang dan berdasarkan fakta yag akurat. Kritik jangan dimanfaatkan untuk menjatuhkan orang atau lembaga, tapi bagaimana kritik itu berguna untuk mengubah sebuah keadaan menjadi lebih baik. Kritik lahir karena sebuah kekhawatiran atas sebuah situasi yang kurang baik, dan berdosa jika kita tidak melakukan usaha perbaikan (Furqon 2016). Di sisi lain masyarakat juga perlu menumbuh kembangkan literasi media massa, untuk dapat mengkritisi dan mengevaluasi informasi yang disampaikan oleh media massa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image