Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sarkawi B. Husain

Menjaga Kampung, Mengembangkan Wisata: Eksistensi Kampung Lama Surabaya

Wisata | 2025-02-06 09:07:36

MENJAGA KAMPUNG, MENGEMBANGKAN WISATA: EKSISTENSI KAMPUNG LAMA SURABAYA

Sarkawi B. Husain

Departemen Ilmu SejarahFakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

Saja heran sekali jang kepala kampung Ketapang tidak mau periksa dia punja kampung-kampung, seperti di kampung Ketapang Protten , apalagi ini sekarang tempo hujan saya harap Mas Beij Assitent-Widhono Njamplungan prenta pada itu kepala kampung buat bikin bersih diitu kampung adanja.” (Bintang Timor, 30-1-1886)

Kutipan Surat Kabar Bintang Timor menjelang akhir abad ke-19 di atas menunjukkan jika kampung merupakan entitas yang keberadaannya sudah sangat lama di Kota Surabaya. Bahkan dalam beberapa teori disebutkan bahwa kota merupakan aglomerasi dari sejumlah kampung atau desa di sekitarnya. Di Indonesia, selain Surabaya terdapat banyak kota yang memiliki kampung lama, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Makasar. Di balik namanya yang sederhana, kampung memiliki banyak dinamika sejarah, sosial, ekonomi, bahkan politik. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika Lea Olga Jellenik - sejarawan dari Monash University – memilih perubahan sebuah kampung sebagai salah satu fokus studinya. “Kampung seperti roda berputar” katanya.

Di Surabaya misalnya, terdapat kampung lama Maspati, Wonokromo, Klampis Ngasem, Banyu Urip, dan lain-lain. Keberadaan sejumlah kampung dengan dinamikanya masing-masing memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Salah satu potensi tersebut adalah wisata kampung. Bagi warga Surabaya, gagasan wisata kampung mungkin masih baru, tapi di tempat-tempat lain seperti Jakarta, Jogjakarta, dan Tasikmalaya wisata alternatif ini bukan lagi barang baru. Kawasan Kali Code di Jogjakarta misalnya, dikembangkan sebagai kawasan wisata kampung mengingat unsur-unsur yang hidup di dalamnya seperti unsur perkampungan, seni budaya, dan lingkungan sungainya masih dapat disaksikan hingga saat ini. Demikian pula di Jakarta, beberapa kelompok seperti Sahabat Museum telah lama menggelar wisata kampung ke berbagai tempat bersejarah.

Pertanyaannya kemudian, dapatkah Kota Surabaya dan kota-kota lainnya mengembangkan wisata alternatif ini? Sebagai salah satu kota lama dan kota kolonial yang memiliki banyak situs sejarah termasuk perkampungan, kota ini memiliki potensi besar mewujudkan gagasan ini. Namun demikian, wisata kampung tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya sinergi dengan aspek-aspek lain seperti sejarah kampung, arsitektur, lingkungan, dan berbagai aspek lainnya.

Dari aspek sejarah misalnya, Kota Surabaya memiliki banyak kampung yang sudah berusia ratusan tahun, seperti Bubutan, Peneleh, Ambengan, Blauran, dan lain-lain. Banyak dari kampung lama ini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang harus dilindungi seperti yang tertuang dalam SK Walikotamadya Kepala Daerah Tk II Surabaya No. 188.45/251/402.1.04/1996 dan SK No. 188.45/004/402.1.04/1998.

Salah satu aspek sejarah kampung yang menarik untuk diketahui misalnya adalah riwayat penamaan kampung. Dalam tulisan R.M. Bintarti, yang berjudul ‘Kenang-kenangan pada masa lampau’ dalam Surabaja Post 16 Mei 1964, diceritakan beberapa asal-usul nama kampung seperti Bungkul dan Blauran. Dalam bahasa Jawa, “Bungkul” artinya tunas untuk bunga. Untuk barang, berarti tombol atau combol. Untuk tongkat “pemegang” (Jawa Penthol). Figuurlijk seorang pemuda atau seorang calon dapat disebut “calon” (tunas). Memang Pesarean Bungkul adalah makam “calon empu” (ahli membuat keris) dari keraton Majapahit. Ia adalah putera Kyai Empu Supa, pembuat keris-keris pusaka Majapahit. Dalam perjalanan dari rumahnya di Tuban ke Majapahit putera Empu Supa itu meninggal dunia di Surabaya dan dikubur di daerah Dinaja (Dinoyo, Surabaya). Kabarnya putera empu Supa itu bukan di makam yang sekarang ini tetapi di tempat lain. Karena tempat ini dibangun rumah-rumah Belanda maka makam putera Supa itu dipindahkan ke tempatnya sekarang di atas gumuk atau bungkul (anak bukit) katanya lebih sesuai dengan nama “bungkul empu” itu.

Untuk Blauran ditengarai sebagai berasal dari kata Balur atau mBalur yang artinya “mengeringkan ikan”, jadi tempat penjemuran ikan ini disebut “Mbaluran” yang lalu menjadi Blauran. Istilah hambalur iwak artinya memotong-motong ikan yang hendak dijemur. Dari penamaan sebuah kampung dapat diketahui perjalanan dan dinamika sejarahnya. Sayangnya tidak ada upaya untuk meneliti dan mendokumentasikan riwayat penamaan ini.

Pelajaran dari Malaka

Belajar dari Malaka (salah satu kota lama di Malaysia) yang mampu “menjual” sejarah kotanya mulai dari aspek arsitektur, makanan, hingga cerita rakyatnya, sebagai kota yang memiliki perjalanan sejarah panjang, Surabaya juga dapat mengembangkan aspek wisata kampung. Surabaya memiliki banyak pelaku sejarah yang dapat menceritakan pengalamannya, memiliki peninggalan arsitektur dari berbagai gaya, memiliki makanan tradisional yang lezat, memiliki kesenian lokal, dan lain-lain.

Untuk mewujudkan gagasan wisata kampung ini, pemerintah kota dalam hal ini Dinas Pariwisata dapat melakukan beberapa hal. Pertama, melalui kerjasama dengan perguruan tinggi, pemerintah harus melakukan pendataan kampung-kampung yang memenuhi unsur-unsur kelayakan menjadi obyek wisata, baik unsur sejarah, budaya, lingkungan, maupun sosial ekonomi. Kedua, seiring dengan pendataan, perbaikan kampung juga harus dilakukan termasuk penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), membangun pedestiran yang nyaman bagi pejalan kaki.

Ketiga, mengembangkan aspek wisata lain yang berhubungan dengan kampung seperti makanan tradisional. Selama ini belum banyak informasi tentang apa dan di mana lokasi makanan khas Surabaya yang enak. Keempat, aspek lingkungan juga harus mendapat perhatian yang serius. Kampung yang bersih dan bebas dari sampah misalnya merupakan aspek yang harus mendapat perhatian lebih. Untuk kepentingan di atas, pemerintah harus melibatkan masyarakat agar berperan aktif mulai dari perencanaan hingga implementasi. Pemerintah juga harus menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli pada lingkungan untuk mewujudkan lingkungan yang menyenangkan.

Mengembangkan wisata kampung sesungguhnya sekaligus membangun kampung dan masyarakatnya. Oleh karena itu, gagasan tersebut memerlukan kepedulian pihak yang terkait untuk duduk bersama memikirkan strategi pengembangannya. Bukankah perjuangan arek-arek Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan berasal dari kampung-kampung yang saat ini tidak pernah kita lirik lagi. Di tengah serbuan modernitas, kampung memiliki dinamikanya sendiri yang sayang untuk kita lewatkan!!!@.

Sarkawi B. Husain, Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image