Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tyo Anugrah Putra - FST Universitas Airlangga

Pedagang Es Teh Banjir Rezeki: Candaan Gus Miftah Dianggap Sebagai Perbuatan Baik oleh Netizen

Agama | 2024-12-11 11:25:02
Seorang Gus Miftah menyebut pedagang es teh dengan sebutan "goblok"

Belum lama ini viral seorang pendakwah besar Maulana Habiburrahman atau yang lebih akrab disapa Gus Miftah setelah melontarkan candaan pada pedagang es teh yang berjualan keliling dalam acara selawatan Lapangan Soepardi, Sawitan, Kabupaten Magelang, Rabu (20/11). Dalam video yang telah banyak ditonton orang itu, terlihat bahwa Gus Miftah selaku pendakwah dalam acara itu menyuruh pedagang es teh tersebut untuk segera menjual es tehnya diikuti dengan kata ‘goblok’. Ucapan itu direspon dengan tawa orang-orang di sekitar Gus Miftah selagi memperlihatkan senyum pedih dari pedagang es teh yang tampak sedang menyunggi nampan dagangannya.

“Es teh kamu masih banyak? Masih? Ya, sana dijual, lah, goblok,” ucap Miftah.

Sontak hal ini menuai banyak kritik pedas dari netizen. Gus Miftah dianggap tidak mencerminkan dirinya sebagai pendakwah agama dengan candaan yang dibawanya. Kasus ini sebenarnya telah usai dengan ditandai permintaan maaf oleh Gus Miftah kepada Sunhaji, pedagang es teh tersebut. Namun bukannya ditanggapi sepenuhnya dengan pelajaran untuk tidak berkata sembarangan, kasus ini malah menuai perspektif baru.

Pedagang es teh kebanjiran rezeki dari netizen karena ketabahannya

Beberapa orang menganggap bahwa perbuatan Gus Miftah ini justru menjadi hikmah positif untuk pedagang es tersebut karena telah menerima simpati warganet hingga selebriti dan kebanjiran rezeki. Sering kali komentar seperti ini ditemukan dalam aplikasi TikTok.

“engga nyangka to pak tanpa gus miftah bapak takan seterkenal ini,” ujar akun @g************k

“gus miftah ngomong gitu ada hikmah nya,” kata akun @S****?

“Berkah Gus Miftah Pak ini dapat uang Banyak,” ujar akun @R********************K

Tentunya hal ini perlu untuk diluruskan. Sunhaji menerima simpati dari seluruh orang berkat ketabahan dirinya sendiri, bukan sebab cacian yang dilontarkan oleh Gus Miftah. Perkataan dari Gus Miftah sendiri masih merupakan perbuatan yang salah dan tidak dapat dibenarkan dari segi mana pun. Yahya dalam (Nurhasanah & Suherman, 2022) mengemukakan beberapa etika berdakwah yang penting dimiliki oleh dai. Pertama, dai sedapat mungkin berlaku sopan. Dalam pernyataan ini, Gus Miftah sudah jelas telah melanggar etika berdakwah yang pertama dan hal ini tidak dapat diganggu gugat.

Diduga hal ini terjadi karena sikap iri yang dimiliki oleh kebanyakan orang Indonesia. Sunhaji menerima ratusan juta rupiah dari selebriti dan konten kreator. Sumber daya manusia seperti inilah yang membuat Negara Indonesia tidak maju. Pasalnya dalam setiap berita, pasti ada perspektif lain yang seolah-olah membenarkan hal tersebut. Kasus yang sudah jelas diketahui kesalahannya pun masih tetap ada yang membenarkan.

Dengan adanya perspektif ini, beberapa konten kreator TikTok, salah satunya G****d V*****t, membuat video khusus untuk membahas hal ini. Ia menyebutkan dalam videonya bahwa ini adalah pemikiran yang manipulatif karena berusaha mencari pembenaran dari kesalahan yang dilakukan.

“Gapapa kita berbuat jahat, karena nanti yang kita jahatin bisa viral terus dia dapet rejeki? Ini adalah pemikiran yang manipulatif karena berusaha mencari pembenaran dari kesalahan yang dilakukan. Salah ya salah, jangan dikaitkan sama kebaikan yang terjadi setelah itu,” jelas konten kreator @G****d V*****t

Sudah cukup Indonesia merasakan pahitnya kebodohan, jangan biarkan logika tidak masuk akal berkeliaran dalam kehidupan bangsa kita. Manusia adalah makhluk yang memiliki akal untuk berpikir. Gunakanlah akal tersebut untuk berpikir secara jernih dan logis. Berhati-hatilah dalam berkomentar dan membuat argumen, karena setiap kata yang kita keluarkan akan menjadi pemicu orang lain untuk berpikir hal yang sama. Dengan adanya pendidikan dan edukasi yang tersebar di segala platform digital, harapannya dapat meningkatkan logika dan pemikiran kritis yang ada pada diri masyarakat Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image